
Hwang Deurim
Life is not the amount of breaths you take, it's the moments that take your breath away.
Hwang Deurim's Profile

◦ ◦ ◦
| Data | Information |
|---|---|
| Full Name | Hwang Deurim |
| Hangul | 황드림 |
| Gender | Female |
| Place of Birth | Seoul, South Korea |
| Date of Birth | August 3, 1996 |
| Nationality | Korean |
| Blood Type | O Rh+ |
| Zodiac | Leo |
| Height | 159cm (5'2) |
| Weight | 44kg (97 pounds) |
| Occupation | House-sitter & Dog Walker |
Hwang Deurim's Personality

◦ ◦ ◦
Sebagai seorang extrovert, Deurim jarang mengalami kesulitan saat bergaul. Meskipun jarang memiliki waktu luang, ia memiliki banyak kenalan dari berbagai kalangan. Dibesarkan oleh sang kakek, ia juga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras—mirip persis seperti Hwang Ilho. Teman-temannya sering menganggap Deurim sebagai orang yang selalu berpikiran positif, namun tak banyak orang yang tahu bahwa ia memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mimpinya untuk menjadi seorang desainer, menjadi salah satu langkah untuk dirinya keluar dari zona nyaman.
Deurim adalah sosok yang kreatif dan cerdas, tak heran jika selama sekolah dirinya selalu aktif di organisasi dan mendapatkan beasiswa. Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai pribadi yang tidak konsisten dan keras kepala—salah dua kekurangannya yang tidak begitu disukai teman-temannya.
Faktanya, Hwang Deurim adalah seorang yang penakut dan sangat mempercayai istilah belahan jiwa. Baginya, entah dari belahan bumi bagian mana, setiap orang terlahir dengan pasangannya. Dengan banyaknya jumlah penghuni bumi saat ini, tak heran jika seseorang menemukan pasangan yang salah. Setidaknya, itu yang sering ditemui si gadis selama menjadi konsultan cinta di majalah online.
Hwang Deurim's Story

◦ ◦ ◦
➤ Bertemu Hwang Deurim Kecil
Sejak kecil, Hwang Deurim hanya mengenal sang kakek sebagai keluarga kandungnya. Tak ada sosok ayah maupun ibu dalam hidup si gadis. Sampai saat ini, ia bahkan tak pernah tahu wajah dan nama ayah kandungnya. Semua itu bermula dari sepasang kekasih yang tak mengerti akan konsekuensi dari tindakan mereka.
Ayah Deurim pergi meninggalkan kekasihnya—tepat sehari setelah si puan memberitahukan kondisinya, meninggalkan Hwang Sowon—ibu Deurim—berjuang mempertahankan kandungannya sendiri ditemani sang ayah.
Kalau kau mengira Sowon mempertahankan janinnya karena secara ajaib ia bisa merasakan kasih sayang pada makhluk yang hidup dalam perutnya, kau salah besar. Ini masih tentang dirinya. Sowon tak ingin membuat dirinya menjadi pembunuh dan dihantui rasa bersalah selama ia hidup.
Seminggu setelah kelahiran Hwang Deurim, ibunya pergi meninggalkan mereka—Deurim dan kakeknya—dan pergi entah ke mana, mengikuti jejak sang kekasih yang memberinya luka, melarikan diri dari tanggung jawab.
Semua kisah menyedihkan itu didengar Deurim dari kakeknya—Hwang Ilho—saat si gadis berusia tepat 13 tahun. Kakek yang amat dicintainya memang selalu jujur dan tak pernah berbohong. Ia tak pernah menyembunyikan apapun darinya—kecuali satu hal. Kenyataan bahwa ia mengetahui di mana keberadaan Sowon selama ini.
Setahun sejak Deurim mengetahui alasan menghilangnya sosok orang tua dalam hidupnya, ia mulai menyadari jika sang kakek masih berhubungan dengan anak tunggalnya. Dimulai dari surat-surat tak bernama, gelagat aneh dan gelisah ketika Deurim menyentuh kertas tersebut, ekspresi senang Hwang Ilho ketika membaca surat itu secara diam-diam, dan satu laci di kamar kakek yang selalu terkunci. Semua titik-titik kejanggalan itu menciptakan satu simpulan dalam benak si gadis. Ibunya—masih—tidak menginginkannya.
Tentu saja Hwang Deurim tidak menunjukkan apa yang diketahuinya. Ia terlalu menyayangi sang kakek untuk rela menyaksikan ekspresi sedih dan bersalah tergurat di wajah tua itu. Lagipula, ia bahagia tinggal bersama sang kakek. Ia tak membutuhkan sosok lain dalam hidupnya. Hati kecilnya mengerti tindakan yang dilakukan Hwang Ilho.
Ayah mana yang rela melihat anaknya menderita?
Tinggal bersama dan menghidupi orang yang tidak ingin dilihatnya. Ayah seperti Hwang Ilho tentu tak akan membiarkan hal itu terjadi. Sayangnya ayah kandung Deurim tak berpendapat demikian.
➤ Bertemu Keluarga Baru Hwang Deurim.
Hidup mereka yang pas-pasan dihasilkan dari pekerjaan serabutan yang dimiliki sang kakek. Salah satu pekerjaan tetapnya yang paling lama adalah sebagai tukang kebun di sebuah keluarga kaya keturunan Jepang. Mereka menetap di Korea sejak keluarga itu kehilangan seorang anak perempuan dan menurunnya kesehatan sang nenek secara drastis.
Secara diam-diam, Hwang Ilho selalu membawa sang cucu ketika dirinya tengah bekerja. Ia tak bisa meninggalkan Deurim—yang saat itu masih berusia 7 tahun—di rumah sendirian. Ia juga tak memiliki cukup banyak uang untuk menitipkan cucunya di sebuah penitipan anak atau menyewa pengasuh.
“Deurim-ah, kau harus diam di sini dan jangan pernah keluar sampai Harabeoji datang.”
Ucapan Ilho selalu sama setiap harinya. Meminta Deurim untuk duduk diam selama beberapa jam di dalam ruang persediaan makanan kering.
Terkadang beberapa pekerja lain mengunjungi Deurim dan menemaninya melewatkan waktu. Seperti Bibi Bokja—kepala dapur—yang selalu membawakan camilan lezat untuknya, Paman Yongdae—supir keluarga—yang mengajarkan Deurim beberapa permainan dan trik sihir, atau Kak Yesoo—pengurus rumah—yang memberikan beberapa buku menggambar.
Namun kunjungan rahasia itu tak berlangsung lama akibat suatu kejadian. Hari itu kali pertama Deurim bertemu dengan Nenek Aguri, sosok tua penghuni kediaman Hasegawa yang menderita demensia.
Sara-chan. Nama itu yang selalu disebut Nenek Aguri ketika berbincang dengan Deurim.
Deurim ingat betapa takut dan terkejutnya ia ketika keluarga Hasegawa mengetahui kebiasaan Ilho yang diam-diam membawa cucu ketika bekerja. Hasegawa Kenji—sang kepala keluarga—tak bisa disebut memiliki ekspresi wajah yang ramah sama sekali.
Hasegawa Yui—istri Kenji—lah yang membuat keputusan untuk membiarkan Ilho tetap bekerja dan membawa Deurim bersamanya. Bahkan, Deurim diperbolehkan keluar dari ruang persediaan dan bermain bersama Nenek Aguri selama 2 jam setiap harinya. Hanya dua jam, tidak kurang dan tidak lebih.
Selama pertemuannya dengan Nenek Aguri, Deurim seperti mendapatkan keluarga baru. Sosok wanita yang selama ini selalu absen dalam hidupnya. Seseorang yang benar-benar menyayanginya, meskipun sosok tua itu tak pernah berhasil menyebut nama asli si gadis. Bagi Nenek Aguri, dia adalah Sara-chan.
“Deurim-ah, itu namamu, ya?” tanya Hasegawa Yui suatu hari.
Deurim baru menyelesaikan pertemuannya dengan Nenek Aguri dan tengah berjalan menuju ruang persediaan, ketika sosok wanita cantik dan anggun itu menghentikannya di dapur—yang anehnya—tak terlihat kehadiran Bibi Bokja.
“Iya, Nyonya,” jawab Deurim kecil mengikuti cara para pekerja di rumah itu memanggilnya.
Sebuah senyum simetris tergambar apik di wajah wanita itu.
“Oh, kau bisa memanggilku Tante Yui. Apa kau senang menghabiskan waktu dengan Nenek Aguri?”
Anggukan kepala cepat lantas diciptakan kepala mungil milik si gadis.
“Aku turut senang. Tapi kau harus tahu satu hal, Nenek Aguri sedang sakit. Ia tak bisa mengingat namamu. Sara-chan,” ada kilat sedih yang muncul di mata Yui selama sepersekian detik, “Biarkan dia memanggilmu Sara-chan. Kau tidak keberatan, kan?”
➤ Bertemu Rival Hwang Deurim
Hasegawa Kazuo adalah anak sulung dari keluarga Hasegawa yang baru pindah ke Korea. Semenjak adiknya—Sara—meninggal, ia semakin menutup diri dan tumbuh menjadi lelaki yang penuh amarah. Ia tidak menyukai cara keluarganya menghadapi kematian adiknya.
Sara patut mendapatkan suasana berkabung, namun suasana itu hilang tepat setelah upacara pemakaman dilangsungkan. Kedua orangtuanya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Mereka seakan tidak ingat pernah memiliki anak perempuan. Tidak seperti Kazuo dan Nenek Aguri.
Semenjak kesehatan nenek memburuk, mereka membawanya ke Negeri Ginseng untuk mendapatkan perawatan. Seluruh cara sudah ditempuh, namun tak ada tanda-tanda neneknya akan membaik. Tidak sampai sesosok gadis kecil muncul di hadapannya dan berpura-pura menjadi adiknya.
Hasegawa Kazuo membenci segala hal tentang Hwang Deurim. Gadis itu terlalu ceria dan ia mencuri seluruh perhatian Nenek Aguri untuknya. Ia bahkan mendapatkan jadwal bermain bersama neneknya setiap hari—di saat Kazuo sering kali dilarang mengganggu Nenek Aguri karena kelelahan setelah bermain dengan Deurim.
Semua itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang yang asing masuk begitu saja ke dalam hidup Kazuo tanpa izin? Tiba-tiba saja, Deurim selalu menghiasi—menghancurkan—hari-harinya.
➤ Bertemu Mimpi Buruk Hwang Deurim
Harabeoji meninggal ketika Deurim berusia 15 tahun. Semuanya terjadi begitu saja. Di hari sebelumnya, mereka masih melakukan rutinitas seperti biasanya. Pergi sekolah dan bekerja bersama, Deurim mengunjungi kediaman Hasegawa dan bertemu dengan Nenek Aguri di sore hari, lalu pulang ke rumah bersama kakek.
Malam itu kakek pergi tidur begitu menyelesaikan makan malam. Lelah dan ingin membaringkan diri, katanya. Ia menolak tawaran Deurim untuk memberikan pijatan, mengingat saat itu si gadis tengah mencuci piring dan hendak mengerjakan tugas sekolah.
Kakek Ilho mati dalam tidurnya, menurut dokter yang memeriksa, ia mengalami serangan jantung ketika tidur.
Selama Hwang Deurim hidup, baru kali ini ia mengalami rasa sedih yang begitu besar. Rasanya, ia kehilangan satu-satunya sumber cahaya dalam hidup. Kakek yang begitu disayanginya pun pergi, meninggalkan si gadis di dunia yang tiba-tiba terasa dingin dan asing.
Tante Yui meminta Deurim untuk tinggal bersama mereka, menghabiskan waktu lebih banyak bersama Nenek Aguri. Tentu saja pada awalnya si gadis menolak, karena berkunjung dan tinggal di rumah itu bukanlah hal yang sama. Ia tak pernah bisa dekat dengan Paman Kenji, dia begitu dingin dan jarang menghabiskan waktu di rumah. Deurim nyaris tak pernah bertemu dengan sang kepala keluarga.
Lalu ada Hasegawa Kazuo, pria yang hanya berbeda beberapa tahun dengannya, namun tak pernah mau bermain bersama. Deurim ingat betul saat dirinya pertama kali menghampiri Kazuo untuk mengajaknya bermain. Selama seminggu lebih, bocah lelaki itu mengabaikannya. Tak menjawab, ia kira Kazuo tak bisa berbahasa Korea. Alih-alih menyerah, gadis itu kerap menghampirinya dan berusaha mengajaknya mengobrol.
Pendekatan pertamanya berakhir dengan Hasegawa Kazuo yang mendorong Deurim sambil melontarkan kalimat pertamanya, “Berhenti mengikutiku, Gadis Bodoh”.
Tatapan itu. Deurim tak bisa melupakannya. Tatapan yang menyiratkan rasa tidak suka. Tatapan yang sering dibayangkannya sebagai ekspresi sang ibu—yang tak pernah diketahuinya—jika bertemu dengannya suatu hari nanti.
Namun paksaan Yui dan kebutuhan hidup yang mendera, membuat si gadis mau tak mau menerima tawaran itu. Selama beberapa bulan, Deurim menghabiskan malamnya menangisi sang kakek. Ia merindukan kakeknya. Meskipun rumah itu begitu besar dan Deurim mendapatkan kamar yang tak pernah berani diimpikannya, hidup berdua bersama kakek adalah momen terbaiknya.
Tentu saja Deurim berterima kasih dengan segala kebaikan yang diberikan keluarga Hasegawa padanya. Sampai kapan pun, ia tak akan mampu membalas mereka—terutama Nenek Aguri dan Tante Yui. Maka dari itu dia semakin giat belajar, berharap bisa tetap mendapatkan beasiswa sampai kuliah nanti. Meskipun mereka memberi fasilitas dan daftar universitas yang bisa dipilihnya tanpa memikirkan biaya, Deurim tak mau memanfaatkannya. Ia ingin meraih mimpi tanpa menyulitkan orang-orang di sekitarnya.
➤ Bertemu Mimpi Buruk Hwang Deurim: Babak Dua.
Kalau kau kira tak diinginkan ayah, ditinggalkan ibu, dan kehilangan seorang kakek yang mengurusnya sejak kecil masih kurang, kali ini Hwang Deurim kehilangan Nenek Aguri. Umurnya menggerogoti sosok tua yang penuh kehangatan itu.
Kepergian Nenek Aguri, menghilangkan tujuan utama keluarga Hasegawa untuk tinggal di Korea Selatan. Tepat sehari setelah upacara pemakaman tertutup itu dilaksanakan, Tante Yui dan Paman Kenji terbang ke Jepang, meninggalkan Korea untuk waktu yang tidak ditentukan—meninggalkan Hwang Deurim untuk tinggal bersama Hasegawa Kazuo yang membencinya.
Deurim sudah menginjak kelas 3 SMA kala itu, sedangkan Kazuo sedang menyelesaikan tugas akhir di perkuliahannya. Selain itu, usaha Hasegawa di Korea tak bisa ditinggalkan begitu saja—membuat Kazuo dibebankan tugas dan kekuasaan di usia yang terbilang masih muda.
“Kau terlalu banyak memanfaatkan keluargaku, kau tahu?” ucap Kazuo tepat tiga hari setelah kepergian orangtuanya.
Selama ini, Deurim hanya menganggap Kazuo tidak menyukainya—meskipun ia tidak tahu apa alasannya. Namun pandangan itu berubah ketika sang adam mulai menagih biaya hidupnya selama tinggal di kediaman Hasegawa. Tidak hanya itu, bunga yang digunakannya benar-benar tidak masuk akal. Seakan Kazuo ingin memastikan bahwa Deurim tidak pernah bisa melunasinya.
Malam itu juga, Deurim mengetahui pekerjaan Hasegawa yang sebenarnya. Di balik banyaknya anak perusahaan yang bernaung di bawah kepemilikannya, keluarga Hasegawa dikenal sebagai kepala dari organisasi ilegal di Jepang. Dimulai dari perjudian, prostitusi, penyelundupan, dan bisnis ilegal apapun yang bisa kau pikirkan, semuanya dilakukan mereka.
Kazuo tak pernah memaksa Deurim untuk membayarnya dengan uang. Namun dari kunjungan mereka malam itu—Kazuo memaksa Deurim untuk ikut—ke salah satu tempat perjudian milik Hasegawa, si gadis tahu betul pekerjaan macam apa yang bisa dilakukannya untuk membayar seluruh hutang tersebut, dan Hwang Deurim tak akan sudi melakukan apa yang diinginkan pria berhati dingin itu.
Sejak detik itu, Hwang Deurim tahu bahwa Hasegawa Kazuo benar-benar membencinya.
➤ Bertemu Hwang Deurim Masa Kini
Saat orang bilang kau tak bisa memprediksi masa depan, kini Hwang Deurim tahu apa yang dimaksud mereka. Rencana masa depannya yang sederhana pun kini terasa begitu mewah dan jauh tak tergapai. Deurim membuang mimpinya untuk berkuliah dan menjadi seorang desainer. Ia memilih untuk bekerja apapun yang bisa dilakukannya demi membayar hutangnya kepada Hasegawa Kazuo.
Tiga tahun sejak Deurim menyelesaikan sekolah dan pergi dari kediaman Hasegawa, kini si gadis tinggal di sebuah unit apartemen kecil di kota Tamna. Untuk bisa menyewa tempat itu, Deurim membutuhkan 5 pekerjaan paruh waktu yang berbeda di setiap minggunya. Nyaris seluruh pekerjaan serabutan pernah dicobanya.
Kini, ia merasa kehidupannya sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Ada atap yang menaungi dan makanan yang mengganjal perut, itu sudah cukup baginya. Namun hutang itu selalu menghantui si gadis, menjadikannya seorang gadis dengan banyak pekerjaan dan sedikit waktu bersosial.
Sudah 2 tahun ini ia bekerja di sebuah agensi penyalur tenaga kerja lepas. Di kota maju seperti Kota Tamna, banyak orang sibuk yang membutuhkan bantuan asisten rumah tangga, namun tak ingin terikat—entah itu dalam urusan gaji atau privasi. Maka dari itu pekerjaan semacam ini tercipta.
Setiap harinya, ia bisa mendapatkan beberapa klien. Membersihkan dan menata apartemen, memandikan dan mengajak anjing peliharaan berjalan-jalan, berbelanja dan mengisi penuh persediaan di dapur, menghias ruang tengah dan kamar untuk acara makan malam romantis. Semuanya bisa dilakukan si gadis. Keuntungan untuk Deurim, bayaran untuk jasa profesional semacam itu tak bisa disebut murah.
Selain itu, ia juga bekerja di sebuah majalah online yang belakangan ini semakin diakses banyak orang. Salah satu rubrik favorit di majalah tersebut adalah laman konsultasi cinta, di mana Deurim bekerja sebagai konsultan anonim di sana. Meskipun pada kenyataannya ia nyaris tak memiliki pengalaman dalam hal cinta, nama pena-nya beberapa kali muncul sebagai konsultan terfavorit di penghargaan bulanan majalah tersebut.
Hwang Deurim's Trivia

◦ ◦ ◦
She has a real sweet tooth. She can't say no to cookies and chocolates.
Rasa sukanya akan makanan manis nyaris berada di batas tidak sehat. Dia selalu menyediakan kukis cokelat kering dan permen susu di tasnya.
Genre film favoritnya adalah komedi romantis dan film yang dibencinya adalah film horor. Ia tak mengerti kenapa seseorang menikmati tayangan di mana mereka hanya dibuat terkejut dan ketakutan?
Ia juga benci ketika harus pulang malam dan berjalan di gang sepi sendirian, terkadang otaknya menciptakan berbagai skenario yang membuat dirinya semakin ketakutan tanpa sebab.